Langkah yang
kulupakan
Sungguh
tak menyangka bahwa dia akan datang dengan sendirinya lagi, seandainya kamu
tahu bahwa itu hanyalah fatamorgana. Tetapi sejak itu dia akan senantiasa
mengikutimu. Bukan sang pujaan hati yang terus merindukanmu dan bukan bidadari
yang turun tepat dihatimu, melainkan sang semut hitamlah yang berjalan di atas
batu hitam saat malam yang kelam.
Putaran
itu mengingatkan ku tentang dia, ya dia. Dia yang terus mengantarkanku ke
tempat yang sebagian besar terjadi reaksi. Lalu apakah salah hati ini bila
sudah terpaut padanya kemudian diam dan
terpaku. Bagaimana jika telah pergi salahkah bila aku bernostalgia dengannya ?
Cukup, jangan menghalangiku sesungguhnya chemistry ini telah tumbuh .
Percayalah bahwa ini tidak terjadi begitu saja, ini karenamu bukan karenaku.
Jadi jangan kau ungkit kembali peristiwa itu.
Melalui
untaian kata-kata ini akan kusampaikan padamu,hal ikhwalnya. Mereka menyebutnya
dengan citeureup ntah karena pahlawan yang berlumuran merah pekat atau adat
moyang yang terus berakar kuat didalamnya. Hanya inilah sang fatamorgana itu
terbit. Capung yang teramat besar itu menjadi bukti akan indahnya jalan yang
penuh endapan hingga jenuh ditelan masa.
Tibalah
pada enantiomer, bukan bayang-bayang yang diterima tapi dialah yang terus
bercermin. Tak terbayangkan jika di bumi alloh ini tiada cermin. Ntah akan ada
atau tiada. Inilah aku. Bagaimana denganmu ???
Home


