Panggung Politik
Desiran
ombak yang sedang menunggu akan datangnya sang putih itu pun bergumam. ‘Hal apa
yang menurutmu paling menyebalkan ?’ ucap kerang yang tak berdosa itu. Bukan
itu yang kucari melainkan dia yang layak. Andaikan elemen pasir itu mendengar
tentu dia akan mengingat history dulu. Semua menghindar akan yang dipikulnya
nanti. Begitu mudah mengurai janji yang nyatanya sebatas buih di lautan. Banyak harapan defisit fakta.
Kecewa memang, menyesal tentu, lelah betul tapi bagaimana lagi. Goresan hitam
itu menjadi benteng terkuat yang tak terelakkan.
Apakah
rela suara pasir putih dan hitam dicampur? Bukankah lembaran yang diperebutkan
itu saksinya ? Lalu siapa terdakwa? Lingkarang besi dan jeruji menjerit seakan
hendak mengganti filsafat mereka. Cukup ini rahasia antara aku denganmu. Cctv
ini melihat dan bergerak memilih apa yang dipantaunya.
Bukan
pula si riya yang menyertai, tidak akad yang kubutuhkan, mengapa pula tidak dia
??? Rayuanmu tak membuatku bergeming, seakan itu menjadi CaCO3 yang terus
menguat mengakar dan membuat lapisan baru di bumi ini. Biarlah aku safar tiada
aku tiada mengapa. Hanya ini untukmu. Sebotol surat yang berisi lembar
tergoreskan penyesalan yang dalam untukmu.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar